Sabtu, 15 Juni 2013

Resensi Film : Java Heat




 

Sebuah film dengan pemain gado-gado antara Indonesia dan Amerika yang mengambil lokasi di Yogyakarta dan disutradarai oleh Connor Allyn yang pernah menggarap film Merah Putih, Darah Garuda dan Hati Merdeka. Film ini dibuat dengan biaya sebanyak $15 juta atau setara 145,5 miliar rupiah membuat film ini menjadi harapan besar bagi calon penonton akan sebuah film berkualitas Hollywood. Namun harapan itu belum bisa terpenuhi mengingat secara keseluruhan kualitasnya masih kurang. Hollywood sendiri mengkategorikannya film ini sebagai budget film yang artinya film berbiaya rendah, tentu saja untuk ukuran mereka.

 

Jake (Kellan Lutz) mempunyai dendam pribadi kepada Malik (Mickey Rourke) yang merupakan gembong pencurian benda-benda antik. Biasanya pencurian itu disertai dengan ledakan bom agar tersamar modus sebenarnya. Secara kebetulan adik Jake menjadi korban pada kejadian sebelumnya. Untuk itu dia menyusul ke Indonesia dengan berpura-pura menjadi mahasiswa seni. Jake menjadi saksi saat terjadi ledakan di Yogyakarta dan sang putri Sultan dianggap tewas padahal sebenarnya diculik oleh kelompok Malik. Mayat yang mirip putri ditaruh disana.

 

Hasyim (Ario Bayu) bertugas pada densus 88 yang menyelidiki peristiwa tersebut. Jake membantu Hasyim walaupun pada awalnya sempat ada yang ditutup-tutupi. Namun mau tak mau mereka harus bekerja sama karena mereka saling membutuhkan. Jake nyaris dipulangkan kembali ke Amerika namun dibantu oleh Hasyim sedangkan Istri dan anak-anak Hasyim disandera oleh Malik dan butuh informasi dari Jake.

 

Malik bekerja sama dengan Ahmed, seorang teroris lokal yang diperkenalkan oleh Visier (Tio Pakusadewo) yang merupakan sepupu Sultan. Rupa-rupanya Visier mengincar tahta dan kedudukan Sultan. Malik menginginkan penebusan perhiasan kalung antik kepada Sultan tetapi ternyata kalung yang asli sudah dijual untuk biaya berobat Sultan.

 

Candi Borobudur menjadi setting akhir cerita film ini. Sayangnya tidak ditampilkan kemegahan, keagungan dan kebesaran Borobudur tersebut. Adegan akhir itu ditampilkan dalam suasana gelap dan remang-remang serta sunyi. Padahal di halaman candi itu ada suatu perayaan atau setidaknya bisa dikatakan suatu pesta rakyat yang ramai dan hiruk pikuk serta lampion-lampion beterbangan di udara. Adegan puncak ini seharusnya merupakan adegan klimaks yang menampilkan adegan seru pertarungan dan ledakan-ledakan yang mencekam ala Hollywood. Tetapi semuanya itu tidak hadir disini, pertarungannya biasa saja, tembak-menembak seperlunya saja dan tidak ada bom-bom yang meledak.

 

Terlihat sekali kualitas film ini masih memiliki rasa lokal dan bukan rasa Hollywood sehingga jelas levelnya masih dibawah film Hollywood. Cara kameramen mengambil gambar dan sudut pengambilannya masih banyak kekurangan. Kualitas kameranya sendiri yang masih buram atau dengan kata lain kurang jernih cukup berpengaruh untuk melihat detil obyek. Teknik editing yang masih banyak kedodoran bahkan beberapa adegan kurang begitu mendukung dialog saat itu, misalnya saja pada saat Jake di interogasi di kantor polisi dan flashbacknya. Bagian property kurang cerdik, TV di dalam kantor polisi yang digunakan untuk melihat rekaman cctv masih hitam putih dan bertipe jadul padahal ini sudah jaman modern dan sudah seharusnya menggunakan TV berwarna.

 

Mickey Rourke bermain biasa saja dan tidak terlihat istimewa. Mungkin karena produksi lokal yang tidak bisa menunjukkan keistimewaan seorang Mickey Rourke. Kellan Lutz bermain bagus dan menampilkan performanya dengan baik layaknya seorang bintang Hollywood. Ario Bayu masih bermain kaku tapi setidaknya ada sedikit peningkatan dibandingkan sebelumnya dalam film Dead Mine. Atikah Hasiholan bermain kaku, mungkin karena perannya sedikit jadi tidak bisa menampilkan yang terbaik. Walaupun pemain-pemain Hollywood ikut mendukung film ini namun tidak secara otomatis mengupgrade kualitas pemain-pemain lokal.

 

Sayangnya peran seorang Sultan dimainkan oleh orang berwajah bule atau barat yaitu Rudy Wowor. Seharusnya dipilih orang yang berwajah Jawa atau lokal. Apalagi model rambutnya gondrong dikuncir kuda  terlihat bulenya. istana Sultan tidak digambarkan dengan megah dan indah. Penampilan Sultan tidak glamour dan tidak mewah sehingga tidak bisa menunjukkan kepada penonton bahwa dia adalah seorang Raja.

 

Banyak adegan merokok dalam film ini yang seharusnya tidak perlu dilakukan karena memang tidak ada unsur yang mendukung ceritanya. Hal yang positif adalah memperkenalkan sesuatu yang berbau Indonesia yaitu becak, nasi goreng, bule, anak mencium tangan orang tua dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar